Seksualitas Perempuan: Tabu yang Dipreteli Korpus Uterus

oleh Nur Hayati Aida
33 views
Website

Beberapa waktu lalu, mengakhiri hari dengan menamatkan satu anggitan Sasti Gotama yang berjudul Korpus Uterus. Awalnya agak ragu untuk bisa mengkhatamkan buku ini—salah satu alasannya karena ini kali pertama membaca karya Sasti, meski beberapa ulasan mengatakan bahwa buku ini bagus. Nyatanya, selama berenang dalam lautan tulisan, saya dibawa ke ruang-ruang paling sublim manusia dan permasalahannya: konteks biologis dan sistem sosial manusia. Dua isu itu yang menari-nari di kepala.

Buku ini, meski novel, menurut saya dengan sangat baik menceritakan bagaimana “aroma” dan “tekstur” tiap sakit yang dialami oleh perempuan-perempuan. Saya berdecak kagum dengan kepiawaian penulis menggambar semuanya dalam rangkaian kalimat yang gamblang. Saya menyangka-nyangka kalau pasti penulis melakukan riset yang panjang untuk bisa mengidentifikasi tiap-tiap aroma dan tekstur itu dengan sangat detail melalui kacamata medis. Belakangan saya tahu bahwa penulis adalah seorang dokter. Oh, pantas saja jika adegan demi adegan yang membincang soal tindakan medis dalam kuretasi, aborsi, penggambaran penyakit kelamin, dan identifikasi seluruh bebauan yang berkenaan dengan tubuh manusia ditulis dengan baik. Sangat baik malah, dan oleh karenanya buku ini menjadi istimewa.

Pertama, buku ini berangkat dari persoalan rahim yang mengantarkan pada isu yang sangat luas, tapi lagi-lagi dianggap tabu. Pertama, soal seksualitas—yang kadang hanya dipahami sebagai hubungan seks semata. Padahal ia jauh lebih besar dan lebih luas lagi. Termasuk di dalamnya bagaimana keluarga diatur sedemikian rupa oleh negara untuk memiliki hanya dua anak, urusan privat yang kemudian dicampuri oleh kebijakan publik.

Kedua, ini yang paling sering disembunyikan. Seolah-olah perempuan tak boleh memiliki hasrat seksual, dan jika ia memilikinya, maka bolehlah disebut sundal atau gatal, meski ia telah bersuami. Pada satu bagian, Dokter Markus—seorang dokter obgyn yang menjadi tempat bagi Pinuluh atau Luh (tokoh utama)—menangani perempuan yang hendak melakukan aborsi. Terjadi percakapan yang menurut saya sangat tajam sekali, meski mungkin masih tabu diperbincangkan. Ringkasnya, percakapan itu bercerita bahwa perempuan juga memiliki hasrat, dan itu manusiawi. Bukan hanya laki-laki yang memilikinya, dan kalaupun perempuan mengekspresikan hasratnya juga adalah tindakan yang wajar saja. Sayangnya, masyarakat tak bisa menerima itu, karena perempuan dikonstruksi untuk terus-menerus sebagai objek, bukan sesama subjek dalam relasi seksual. Duarr. Sederhana dan lugas, tapi bagi saya bagian ini mendekonstruksi nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat patriarkis macam di negara kita.

Hal lain yang tak bisa dielakkan dalam novel ini adalah kepiawaian penulis dalam menghubungkan antartokohnya—yang pada akhirnya membuat saya terus manggut-manggut. Ternyata, Lima—aktivis yang pro choice itu—ternyata adalah ibu kandung Luh yang dulu tak pernah mencarinya meski ia minggat dari rumah.

Sebagai tambahan, ada dimensi seksualitas yang dibawa oleh Luh. Ia tak tertarik pada lawan jenis atau sesama jenis. Ia tertarik pada diri sendiri. Nah, lho. Novel ini, meski mengeksplorasi seksualitas, jauh dari kata pornografi yang dijual dari karya-karya stensilan.

Kalau kamu punya waktu luang dan berminat baca novel, saya rasa Korpus Uterus bisa menjadi pilihan.

Nur Hayati Aida
Nur Hayati Aida

Santri yang tak kunjung khatam membaca al-Quran

You may also like

Leave a Comment